Saturday, 17 December 2016

Perjalanan Ki Sanak #5 : Klenteng Sam Poo Kong & Kota Tua


Minggu Siang. Masih di Perbukitan Ungaran.

Sebelumnya harap membaca link-link dibawah ini untuk mengetahui cerita lengkapnya :

Cerita 1
Cerita 2
Cerita 3
Cerita 4

Tahu isi terenak sejagad raya kini memenuhi perut-perut naga kami, seolah mengerti bahwa prajurit-prajurit ini masih akan terus mengembara dan berpetualang di kota Lumpia. Hari berjalan kian laju, begitu juga Jazz tempur yang kami kendarai tanpa lelah. Menerjang dingin malam dan terik sinar siang. Cieh.

Kami memutuskan untuk terus berjalan ke.. mengikuti arah angin. Sepanjang perjalanan menuruni perbukitan Ungaran, banyak kios dan warung-warung kecil penjaja makanan dan oleh-oleh. Paling menonjol diantaranya adalah tahu khas Ungaran. Di setiap kios pasti bertuliskan Tahu Serasi.
"Tahu serasi apaan sih"
"Ngga tau, mungkin biar kita semua semakin serasi kalo makan itu."
"Yaudah tancap lah, cicip dulu boleh kali" Fajar tidak henti-hentinya menoleh kearah kios-kios Tahu Serasi.
"Makan lagi jar??"
"Abis naik turun gunung Mir, Sun Go Kong aja selalu berhenti sejenak dari pencarian kitab sucinya"

Belum selesai kalimat tersebut diucap, Jazz tempur sudah terlebih dahulu melipir dan berhenti didepan Kiosk Tahu Serasi. Tempatnya sederhana, seperti warteg atau burjo yang sering ditemui di Jakarta atau Jogja. Bedanya, menunya cuma satu, Tahu Serasi.
"Bu, yang biasa 1 porsi, yang paling spesialnya ya,  2 porsi"
"Tahu mas?"
"Iya lah bu, Tahu.. masa duren?"

Sambil menunggu tahu Serasi matang, Aria memutuskan untuk pergi membeli buah, "Ada yang mau nitip ngga nih?"
"Ngga ah, buah apaan lagi yang lo beli.."
"Buah apaan kek, harus banyak makan vitamin C Mir, biar sehat.. dan gak seret"

Beberapa menit kemudian, pemuda berbehel ini kembali dengan sekantung plastik hitam berisikan potongan-potongan buah.. Nangka. Yah ilah.

"Eh ini nih.. Nangka nih enakk.. Gw beli 2 kilo nih"
"Gilaa bakal apaan lo beli nangka 2 kilo?? Malah tambah seret bego makan nangka"
"Biarin napa, biar batuk gue ilang makan buah"
"Nangka malah bikin tambah batuuuk, blo'ooooonn!! Itu kan ada getahnya!!"
"Sok tau lo Mir.."

Terserah deh. Yang jelas diantara kami sedang tidak bernafsu memakan nangka. Tak lama, Tahu Serasi pun siap dihidangkan. "Ini yang biasa mas... ini yang spesial..." beberapa piring tahu diletakkan dimeja kami. Sontak kami semua terdiam memandang tahu-tahu ini. Bentuknya seperti... tahu. Biasa aja gitu.
Seperti tahu yang biasa dibeli di swalayan atau tukang sayur gerobak. Tahu kotak-kotak putih, dipotong kecil-kecil. Bahkan bukan seperti tahu sumedang. Hanya tahu biasa.

Hahahaha. Yang biasa dan yang spesial pun tak ada bedanya. Jumlah porsinya juga sama. Hanya saja yang spesial, ada potongan cabai di bumbu kecapnya. Yang biasa, hanya kecap saja. Kami saling berpandangan. Hahahaha. HAHAHAHAH. Mamam huh tahu serasi.

"Ini apa yang khas??? Rasanya kayak tahu, bentuknya kayak tahu juga, cuma di potong kecil-kecil aja sama pake kecap.." Fajar, setelah meng-gelonggong tahu isi di Candi Gedong Songo merasa seperti ahli dibidang per-tahu-an.
"Ini maksudnya.." Adjie mencoba menjelaskan ditengah upaya mengunyah tahu yang panas "Tahu panasnya SERASI sama kecapnya.. coba kalo bumbunya pake saos mangga, atau pake es krim kan ngga SERASI jadinya.."

".........................." *masih mengunyah
"Eh, iya bener-bener. Apapun yang Adjie bilang selalu benar. Kalo Adjie salah, kembali ke pernyataan sebelumnya.."
Merasa sudah tersihir dengan kenikmatan Tahu Isi di Gedong Songo, tahu-tahu serasi tak bisa membangkitkan selera kami lagi. Namanya penipuan berkedok 'Makanan Khas Ungaran'.

"Jadi gak ada yang mau ngabisin nih?" Sudah siap siaga dengan garpunya, Andika bersiap menyapu bersih dunia per-tahu-an. "Sikat Ndik..." Hahahaha. Memang di kelompok ini sudah punya tugasnya masing-masing kalau menyangkut makanan. Ada yang sebagai pencetus ide mau makan apa, ada yang sebagai petugas icip-icip, ada yang tugas membayar kekurangan ketika sesudah makan, ada yang tugasnya memesan menu yang aneh-aneh, ada juga yang bertugas sebagai tim sapu bersih.

Karena persahabatan seyogyanya saling melengkapi dan merecoki satu sama lain.

Sekitar pukul 1 siang kami melanjutkan perjalanan turun menuju pusat kota Semarang. Memang tidak terlalu jauh jaraknya, kami sudah berada di tengah-tengah kota dengan jalan raya utama yang berkelok-kelok dan naik turun. Masih belum memutuskan tempat persinggahan kami berikutnya di liburan kami kali ini. Muncul usulan untuk mengunjungi Lawang Sewu, bekas stasiun tertua di jaman Belanda yang sudah di revitalisasi oleh Pemkot setempat menjadi tempat wisata yang cukup terkenal di Semarang.
"Ada apaan di Lawang Sewu?" tanyaku yang memang belum pernah kesana.
"Bangunan tua, lawang artinya pintu, sewu artinya seribu, jadi pintunya ada seribu.." Adjie menjelaskan seraya meregangkan otot-ototnya yang pegal karena naik turun gunung.
"Ah, males.. pintu doang isinya.." Aria memberikan argumen, yang seperti biasa disanggah oleh Andika "Heh tur, tapi itu banyak sejarahnya turr.."
"Kalo cuma pintu mah ditoko bangunan juga banyak Ndik.." Sungguh debat kusir yang tiada habisnya membuat sang titisan Kraton Solo harus melerai pertikaian sebelum terjadi perang saudara
"Udah, kita ke Kuil Sam Poo Khong aja. Deket kok dari pusat kota"
Suara Adjie sang titisan Kraton Solo seperti gema di telinga kami, terasa seperti momentum epiphany yang sungguh mencerahkan.
"Baik Dewa Adjie.."
"Baik, sang Guru, kita akan meneruskan perjalanan ke Barat mencari kitab suci..."
"Baik Paduka Raja..."

Sayapun berinisiatif menepuk pundak Fajar yang duduk di bangku kemudi, dengan dua kali tepukan yang bersahaja sambil berkata mantap, "Ke Sam Phoo Kong ya..."

"ANYINGG GUE UDAH KAYAK SUPIR BLUE BIRD, Gw yang punya mobil ini woiiiiii"

HAHAHAHHHA. Seperti biasa, kami hanya bisa menjawab, "Yah, GIMANA LAGI jaaarrr...".
Kereta kuda a.k.a Jazz Abu-abu AB8787 pun melesat bagai kilat.

Seperti biasa perjalanan kami diwarnai dengan adu otot mata, alias dilarang keras memejamkan mata untuk tidur, kecuali hanya untuk berkedip.

Sesampainya di Kuil Sam Phoo Kong, matahari cukup terik menyinari kami. Ternyata tempatnya cukup menarik untuk dikunjungi. Selain karena sejarahnya mengenai panglima perang dari bangsa Tiongkok, memang arsitektur kuil ini sangat terasa mewah, dengan ciri khas warna merah menyala dan ukiran-ukiran khas bangsa Tiong Hoa.

Adjie tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan kacamata hitamnya, dan menanyakan kira-kira berapa ya harga topi yang dijajakan oleh Ibu-ibu dipintu masuk kuil,

"Gaya banget lo mau pake topi segala djie.."
"Biar ga tambah item, Mir.."
"YAILAH JIIIEE.."

Mulailah perburuan foto kami dimulai. Kekisruhan kembali terjadi dengan kamera canggih yang kami bawa, kalau sebelumnya batre cadangan ketinggalan di mobil, kali ini karena lagi-lagi Fajar lupa menurunkan tripod dari bagasi. Jadi gagal lah niat kami berpose ala boyband dengan formasi lengkap.

"Ambil dulu jar tripodnya dimobil.."
"GW UDAH JADI SUPIR, SEKARANG SURUH JADI TUKANG FOTO JUGA!? NDIK DONGGG.."
"Seeehh jarr, gw harus mendampingi Adjie ini, paduka raja harus didampingi supaya ngga cidera.."
"#$%^&*@("
"Jar, lo ngapa marah-marah mulu si jar.. tenang abis ini kita cari tahu goreng lagi dah.." Mastur mencoba menenangkan. "Nih kalo laper lo makan ini dulu.." sambil menyodorkan sebongkah kantung plastik berisi.. Nangka. "KAGAK MAUUUUU!!!"

Sumpah yah, Mastur makan nangka dari tadi kagak abis-abis. Ya iyalah beli buah nangka dua kilo. Gak beli minum pula.

Saking luas dan besarnya kuil, kami tidak sanggup mengitari semua isi bagian, hanya sanggup mengitari bagian yang terlihat menarik untuk spot foto-foto. Karena tidak ada tripod, maka yang kami gunakan adalah TriDjie, tripod Adjie, alias Adjie yang motoin.

"Oke kita pose boy band sekarang" tsaahh. Cekrek. Cekrek.
"Pose cakep" cekrek, cekrek.
"Pose natural.." entah kenapa kami berempat, Saya, Andika, Aria dan Fajar malah memilih berpose berjongkok, bergelantungan di pegangan pintu pagar kuil yang besar sambil mengangkat kaki, atau mengangkang dengan  mulut ternganga. Alih-alih pose natural, kami terlihat seperti sekumpulan orang desa yang baru jalan-jalan ke kota. Mungkin itu definisi natural buat kami. Entahlah.

Setelah puas mengitari Klenteng, hari pun sudah semakin sore dan kami memutuskan untuk berganti destinasi. Tempat yang paling dekat dari Klenteng adalah kawasan kota Tua semarang, yang juga terkenal di kota ini.

Kami lalu memarkirkan Jazz tempur kami di plataran parkir dekat dengan stasiun Tawang Semarang. Suasana dan gedung stasiunnya juga terasa sangat vintage, alias old school. Kali ini Fajar dengan bijak membawa semua perlengkapan foto seperti bateral full charged, dan tripod. Kamipun sempat mengabadikan beberapa foto andalan bergaya boyband sambil menunjuk kearah atas tulisan Stasiun Tawang sambil membelakangi kamera.

Mungkin orang-orang sekitar berpikiran "iki cah cah nom ndeloki opoooo meneh... wong burung ae kok girang..(ini anak-anak muda ngeliatin apa sih, cuma burung doang aja giranag banget)". Tapi disanalah makna dari perjalanan kami, yaitu tidak ada maknanya. Pengen aja gaya kayak gitu.

Disini kembali terjadi kericuhan karena tiba-tiba Aria Mastur menyetuskan sebuah ide untuk membuat semacam pesan lewat foto yang ditujukan untuk sang pacar (disclaimer : saat tulisan ini dibuat, penulis lupa saat itu Aria berpacaran dengan mbak yang mana..).

"Kita buat tulisan I (simbol love) (nama Pacar Aria waktu itu) ajaa.."
"Wah kalo itu gak cukup jumlah kita dibanding sama jumlah namanya.."
"Yaudah tulisan I (simbol love) U aja.."
"Yak trus yang lain ngapain dong.. masa kagak ada di foto"
"Yaudah tulisan L. O. V. E. ! ajaa.. (pake tanda seru)"
"Nah iyak ide bagus.. ayo dicoba..." Akhirnya kami mengambil posisi dengan tangan-tangan membentuk huruf-huruf yang diinginkan, beberapa menit kemudian baru Mastur menyadari..
"Yakk gimana caranya gua dahh ngebentuk 'tanda seru' .. kan tanda seru ada titiknya di  bawahh masa gua harus loncaat diatas batu, atau pala gw dibawah... bla bla bla.."

ANJIR. Mau foto aja ribet banget sodara-sodara, lebih ribet dari mau pertunjukkan lenong. Akhirnya setelah 2 jam kemudian (kaga ding, lebay.. setengah jam kemudian) saya memberi ide..

"L.O.V.E. U (love you) ajaaaaa.." disambut dengan raungan serigala-serigala lapar "DARI TADI KEK MIRRRR NGOMONGNYAAAA.." hampir saya disambit kantung plastik nangka.

Hahahahahahha. Akhirnyaaaa, sang pujangga pun menempati posisi huruf 'U' ditulisan 'L O V E U". Sampai sekarang masih tanda tanya apakah foto tersebut, yang melewati tumpah darah perjuangan sampai ke tangan sang pacar.


Puas dengan foto-foto di depan stasiun, kami beranjak berjalan disekitaran kota tua. Pemandangan disini sebenarnya cukup menarik dengan bangunan-bangunan tua, perpaduan antara arsitektur khas belanda, jawa dan tionghoa. Sayangnya daerah Kota Tua pada waktu itu kurang terawat. Masih banyak tumpukan sampah dan gelandangan, yang membuat kesan jadi kurang aman. Tetapi ditengah semua itu, di persimpangan jalan yang cukup ramai lalu lintasnya, kami menemukan secercah harapan untuk Bangsa Indonesia, sebuah pesan yang sangat menggugah hati kami, sampai hari ini.

Adalah pesan kampanye dari salah satu calon Walikota Semarang saat itu : "Pesan Mas Ari : Berbaktilah pada Orang Tua". Hanya itu saja.

Sebuah pesan pendek kampanye dari Mas Ari. Siapapun engkau, wahai Mas Ari, sungguh pesan kampanyemu membekas di hati kami para pemuda penerus bangsa, sehingga dari semua tempat menarik di kota tua, kami memilih untuk mengabadikan foto didepan spanduk kampanyemu dibandingkan tempat yang lain. Terimakasih wahai Mas Ari, karena pesan kampanyemu sungguh singkat, jelas, dan padat.

Sambil menikmati udara sore yang sejuk sepoi-sepoi, kami menelusuri kota tua Semarang dengan hati yang gembira. Romantisme bersama sahabat inilah yang kelak akan kami rindukan jika kami sudah berpisah jarak dan waktu.
Ditengah kebisuan yang melodramatis, Aria Imam Ambara, harus membuyarkan semuanya..

"Woii.. ini siapa woii.. yang mau bantuin gw ngabisin nangka... udah gatel banget ini tenggorokan gw makanin nangka..."

Kami hanya bisa menoleh ke Aria Imam yang dengan polosnya masih memegang plastik berisi buah nangka dengan berkata "LO MAKAN TUH NANGKA DUA KILOOOO..". Dengan kengeyelannya akhirnya Aria terpaksa membuang sisa nangka, karena Andika, sang sapu bersih makanan tidak bernafsu menghabiskan plastik berisi nangka "Kalo tahu goreng oke dahh.. kalo nangka gak baik buat diet gw.." Kata Ndik sambil melengos, minta disambit.

Di sekitaran kota tua juga banyak spot-spot menarik yang bisa digunakan untuk latar belakang foto, seperti Gereja Belenduk, danau tengah kota, yang lebih mirip empang karena banyak sampah, dan lainnya. Menikmati sore dengan cara kami sendiri, di saat yang tepat, dengan orang-orang yang tepat. Disaat yang dipikirkan hanya UAS, Skripsi, uang kos yang belum dibayar, dan juga makan dimana abis ini. Tidak ada belenggu kehidupan. Bebas. Lepas.

Hari sudah semakin sore, matahari sudah mulai meredup. Kami memutuskan untuk memulai kembali perjalanan ke kota Gudeg tercinta, Jogjakarta. Di jalan kami berniat untuk mencari makan di tempat makanan ter hits sekota Semarang, dan bisa ditebak, makanannya B aja. Alias Biasa aja. Mungkin kami kurang berjodoh dengan wisata kuliner Semarang kali ini, karena semua makanan yang kami makan pada perjalanan kami rasanya.. agak kurang.

Setelah lelas mengunjungi candi-candi, klenteng, gereja, tampaknya tidak lengkap kalau tidak mampir ke rumah Ibadah kami, ke Masjid Agung Semarang. Tidak lain tidak bukan karena Adjie ingin berganti baju dan bersih-bersih. Bukannya apa-apa, memang Masjid ini besar dan megah sekali, sehingga untuk mencapai tempat sholatnya perjalanannya cukup jauh. Saya, yang waktu itu hanya memakai jaket hoodie lusuh, dan jeans robek-robek, merasa ciut karena tatapan-tapapan menghakimi dari ibu-ibu yang sedang berkunjung, mungkin dipikirnya saya ini anak punk yang hendak bertaubat. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu di luar pelataran masjid. Hahaha. Keempat manusia-manusia yang saya tunggu entah kemana, sambil menyeruput teh botol saya terus menunggu hingga akhirnya Fajar dan Aria muncul. Setelah saya dilalerin dan mulai lumutan saking lamanya menunggu, akhirnyaaa Andika dan sang pangeran Kraton Solo, Adjie pun muncul. Ternyata oh ternyataaa, sendalnya Adjie hilaaang sodara-sodara. Jadilah mereka berdua mengitari masjid sambil mencari tukang sandal jepit. Sungguh peristiwa yang melengkapi cerita perjalanan spiritual kami di kota semarang : mengunjungi semua tempat peribadatan agama, dan kehilangan sendal di masjid! Adalah peringatan bagi kami, bahwa lain kali niatan ke Masjid adalah untuk beribadah, bukan untuk ganti baju. Akibatnya, sendal melayang. Hahahahaha.

Setelah sekian tahun, penulis baru sanggup menyelesaikan tulisan ini. Hahahahaha. Sekian tahun persahabatan kami, hanya ini perjalanan yang bisa kami lakukan bersama-sama. Selebihnya sulit sekali mengumpulkan jadwal para pejabat-pejabat ini. Satu diantara cerita perjalanan yang berkesan sampai hari ini. Semoga dihari tua nanti, catatan kecil ini bisa mengingatkan kembali bahwa sejak dulu kami sudah menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, menghargai latar belakang suku, dan juga berjanji untuk menjadi penerus bangsa yang, sesuai pesan mas Ari, Berbakti pada Orang Tua.

--

Tomorrow's near, never I felt this way
Tomorrow, how empty it'll be that day
It tastes a bitter, obvious to tears that I hide
To know that you're my only light
I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
Oh, I love you

How many lonely days are there waiting for me
How many seasons will flow over me
'Till the emotions make my tears run dry
At the moments I should cry
For I love you, oh I need you
Oh, yes I do


-- Daniel Sahuleka -- yang mengiringi perjalanan kami.

NB.

"EIITTTSSS SEMUANYAAA, GA BOLEH TIDUUURR!! PERJALANAN KE JOGJA MASIH JAUHHHH!!" --pesan dari pak Supir.


--THE END--




No comments:

Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

tentang ..

campus-life (5) friends (1) fun (7) graphics (2) monologue (27) prosa (19) travel (2) wordphology (1)